Selasa, 27 September 2022
No menu items!
Advertisment
BerandaEditorialBedah Buku Legasi (Warisan) Pak Harto

Bedah Buku Legasi (Warisan) Pak Harto

SuaraMagelang.com – Tahun 2019 publik Indonesia dikejutkan oleh sosok ahli ekonomi Esther Duflo warga negara Amerika Serikat yang meraih nobel ekonomi karena meneliti kebijakan Pemerintah Indonesia di masa lalu. Penelitian kebijakan era Presiden Soeharto tentang SD Inpres pada 1970 an hingga 1990 an yang mengantarkan Esther Duflo meraih nobel ekonomi. Ini menandakan salah satu kebijakan di era Orde Baru tersebut berdampak luas secara ekonomi dan mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Hingga periode 1993/1994 tercatat hampir 150 ribu unit SD Inpres telah dibangun. Seiring dengan itu, ditempatkan pula lebih dari 1 juta guru Inpres di sekolah-sekolah tersebut. Total dana yang dikeluarkan Pemerintah Orde Baru untuk program pembangunan SD Inpres hingga akhir Pembangunan Jangka Panjang (PJP) I mencapai hampir Rp 6,5 triliun. Atas program ini, Presiden Soeharto mendapatkan penghargaan Medali Emas Unesco Avicenna (pendidikan) dari Unesco pada tahun 1993.

Berangkat dari fenomena tersebut, dalam momentum 100 tahun kelahiran “Bapak Pembangunan” Jenderal Besar HM Soeharto tahun 2021, sebuah buku baru yang membahas warisan Pak Harto berjudul “Legasi Pak Harto” karya Mahpudi MT akan di-launching dan didiskusikan dalam rangkaian International Indonesia Book Fair di JCC Senayan pada 11 Desember 2021 pukul 14.00-15.00 WIB. Puluhan peserta akan mengikuti acara tersebut secara offline dengan protokol kesehatan yang sangat ketat, dan juga diikuti secara online oleh berbagai elemen masyarakat dan sivitas akademika di berbagai wilayah melalui channel YouTube Gatra TV.

Selain dihadiri Mahpudi MT sebagai penulis sekaligus narasumber utama, buku ini juga akan dibahas secara intensif oleh Effendi Gazali (Pakar Komunikasi), Anthony Budiawan (Pakar Ekonomi lulusan Universitas Erasmus Belanda), dan juga Haryo Putra Nugroho Wibowo (Cicit Presiden Soeharto sekaligus Chairman Perusahaan HATRA Group). Dalam forum tersebut, Effendi Gazali akan lebih menyoroti Algoritma Komunikasi yang berkembang dari berbagai literasi tentang Pak Harto. Sedangkan Haryo Putra Wibowo akan banyak menyampaikan pengalaman pribadi sebagai cicit Presiden yang sedikit banyak telah berdialog dan menimba ilmu dari kakeknya.

Di sisi lain, ekonom Indonesia Anthony Budiawan akan lebih membuat tinjauan dialektis atas situasi ekonomi di masa Presiden Soeharto dan situasi ekonomi aktual di masa Presiden Jokowi saat ini. Dalam beberapa kurun waktu terakhir, Anthony Budiawan banyak memberikan catatan kritis di media, khususnya pembahasan mengenai situasi ekonomi politik pasca mundurnya Presiden Soeharto.

Buku tentang Pak Harto ini paling mutakhir diterbitkan dengan perspektif yang unik dan sama sekali berbeda. Penulis mengungkap sejumlah “warisan” dalam wujud prasasti yang ditandatangani Pak Harto, 999 bangunan masjid, mushaf Al-Quran, buku, prangko, berbagai naskah pidato, dan karya-karya pembangunan serta berbagai yayasan. Buku yang diterbitkan oleh Yayasan Harapan Kita ini ditulis dengan gaya bahasa yang ringan, namun sangat kaya dengan data.

Selain bedah buku “Legasi Pak Harto”, International Indonesia Book Fair juga menggelar stand khusus berbagai buku tentang Pak Harto bertajuk “All About Soeharto”, baik dalam bentuk buku cetak maupun buku digital. Harapannya, dengan pameran buku khusus “All About Soeharto” menjadi inspirasi bagi generasi bangsa agar dapat seperti Esther Duflo dan Anthony Budiawan yang memiliki fokus perhatian pada riset tentang legasi Pak Harto. Selain itu, pameran All About Soeharto juga ingin semakin menumbuhkan semangat literasi di Indonesia, tak terkecuali semangat literasi berbagai warisan Presiden Soeharto.

TULISAN TERKAIT

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -

Terbaru

Komentar Terbaru